Selasa, 26 November 2013

TAMAN PURBAKALA PUGUNG RAHARJO


M.Art.X|Design - Taman purbakala Pugungraharjo dibatasi dengan sebelah utara desa Bojong sebelah timur Bauh Gunung Sari sebelah selatan Gunung Sugih sebelah barat Gunung Pasirjaya.




Riwayat penemuan Pugungraharjo semula merupakan daerah hutan dibuka oleh warga transmigrasi pada tahun 1954, pada pembukaan waktu tersebut oleh seorang warga transmigrasi menemukan sebuah arca yang diberi nama Bodhisatwa, tempat penemuannya pada tanggal 14 Agustus 1954.
Setelah ada laporan lembaga purbakala bersama lembaga pemerintahan daerah untuk membentuk suatu penelitian pertama tahun 1969, kedua tahun 1972, ketiga tahun 1975. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Pugungraharjo ada 3 ( tiga ) jaman yang berkaitan :

Zaman Prasejarah
Jaman Klasik( Sejarah )
Jaman Pengaruh Islam
Benda – benda yang membuktikan pada Jaman tersebut adalah :

1. Benteng Tanah
2. Punden Berundak
3. Batu Mayat
4. Komplek
5. Patung Type Polinesia

1. Benteng








Di antara Taman Purbakala Pugung Raharjo ada dua buah benteng, benteng sebelah timur dan benteng sebelah barat dengan lus seluruhnya 30 Ha, dengan perincian : Benteng sebelah timur 20 Ha dan benteng sebelah barat 20 Ha.
Yang dimaksud dengan benteng pada situs ini merupakan gundukan tanah dalam bentuk melingkar, tinggi gundukan 2-3,5 m, sedangkan bagian luarnya terdapat parit yang dalamnya 3-5 m. Panjang benteng sebelah timur 1200 m dan sebelah barat 300 m. Pada beberapa bagian terdapat jalan yang menghubungkan bagian luar dan dalam benteng. Fungsi benteng tersebut adalah untuk berlindung dari serangan binatang buas dan musuh.

2. Benteng Tanah


Yang dimaksud dengan benteng Tanah adalah gundukan tanah yang berbentuk kepersegian memanjang terdiri dari benteng dan parit salah satu sisinya berupa anak sungai sekampung (way sekampung), anak sungai sekampung yang biasa disebut dengan Sungai Pugung ini dapat berfungsi sebagai benteng juga , dan juga ada jalan masuk sebagai penghubung benteng. Ukuran benteng (gundukan tanah) Tinggi : 2 M – 3,5 M.
Pada bagian luar benteng terdapat parit yang cukup dalam dengan ukuran 3 M – 5 M . Maka dengan demikian jika ada masuh atau binatang buas yang akan masuk benteng akan sulit , dengan adanyan benteng tanah tersebut segi keamanan relatif terjamin. Dengan digantikannya salah satu sisi benteng dengan sungai Pugung sudah dapat diduga bahwa keadaan sungai pada masa tradisi megalitik sungainya sangat dalam dan deras, sehingga dapat mengantikan fungsi benteng. Fungsi dari benteng tanah sebagai tempat perlindungan/pertahanan dari gangguan binatang buas atau mungkin gangguan dari musuh antar kelompok suku.
3. Punden Berundak



Ada 13 buah punden di dalam Taman Purbakala Pugung Raharjo baik yang berukuran besar maupun kecil. Pada awalnya punden ini ditemukan hanyalah sebuah gundukan tanah yang tertutupi oleh ilalang dan pepohonan yang ternyata setelah dibersihkan memiiki teras yang bertingkat. Punden yang ditemukan dalam situs ini ada yang memiliki tiga buah undak-undak dan dua buah undak-undak yang mebedakan derajat dan status sosialnya.

4. Batu mayat






Batu Mayat adalah sebutan oleh penduduk setempat, adalah sebuah batu yang kemungkinan sebuah menhir. Disebut batu mayat karena batu tersebut berbentuk menyerupai bungkusan mayat. Batu mayat ini memiliki ukuran 205 cm dan garis tengah 40 cm. Batu mayat tersebut terletak dan tertanam tegak di tengah-tengah batu lain yang melingkarinya dalam bentuk segi empat panjang arah timur dan barat. Batu-batu yang melingkari batu tersebut antara lain batu altar, menhir-menhir kecil dan sebuah batu berbentuk lempengan bergores huruf "T" pada kedua sisinya. Arah batu yang melingkar batu mayat adalah dalam orientasi timur-barat, adanya orientasi ini memunculkan beberapa penafsiran antara lain ada yang mengatakan bahwa orientasi itu sebagai siklus alam atau gambaran perputaran matahari.

5. Batu Berlubang



Adalah sebuah batu yang memiliki sebuah lubang biasanya jumlah dan letak lubang tidak beraturan. Batu berlobang ini terdapat di bagian timur situs dekat dengan mata air. Batu tersebut terbuat dari batu kali (andesit) yang berwarna hitam keabu-abuan. Pada bagian permukaan terdapat empat buah lubang yang cukup luas, sedangkan jumlah batu lobang semuanya ada 19 buah. Adapun pemberian nama batu lobang ini adalah untuk membedakan dengan jens batu lupang. Fungsi dari batu lubang ini adalah untuk melumatkan apa yang perlu dilumatkan.

6. Lumpang Batu


Lumpang batu adalah sebuah batu yang memiliki satu lubang. Di Taman Purbakala Pugung Raharjo ditemukan dua buah tipe, yaitu :

a. Sebongkah batu yang tidak berbentuk tapi bagian atasnya datar diberi lobang. Tipe batu ini dapat dijumpai dipinggir kali sebelah timur kolam.

b. Sebuah batu yag telah dibentuk, dengan bentuk persegi empat panjang serta berkaki, sedangkan di bagian atasnya diberi lubang dan pada saat ditemukan bentuknya tidak utuh lagi.

7. Batu Bergores

Dalam Taman Purbakala Pugung Raharjo terdapat empat buah batu bergores, tiga buah kurang lebih 25 m dari sumber mata air dengan posisi arah barat daya. Sedangakan yang satu lagi saat ini tersimpan di rumah informasi. Batu bergores ini ditemukan di sebuah sungai kecil 100 m dari rumah informasi arah timur laut.
Fungsi batu bergores ini hingga kini belum diketahui secara pasti, namun dapat diduga batu tersebut digunakan untuk mengasah mata tombak atau kapak batu.

8. Pemandian Megalithik

Adalah suatu kolam yang mengandung benda-benda megalithik dan sudah dapat dipastikan bahwa kolam pemandian itu telah digunakan sejak masa prasejarah. Kolam dimaksud terletak di bagian timur situs, tepatnya di sebelah barat punden yang paling timur atau sering disebut "Punden Arca".

9. Batu Kampak.

Pada masa berburu dan mengumpulkan tingkat sederhana atau disebut masa paleolitik mereka memanfaatkan keadaan alam secara penuh, mereka sudah dapat membuat alat dalam bentuk sederhana dengan batu masif yang masih kasar. Alat batu masif seperti kapak perimbas, kapak penetak, kapak gemgam,dll. Masa berikutnya adalah masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, masa ini disebut masa mesolotik atau epi paleolitik. Pendukung masa mesolitik sudah mengenal tempat tinggal walau sementara seperti ceruk-ceruk atau gua-gua.Mereka sudah dapat membuat alat-alat pisat dari batu,mata panah, mereka hidup dari menangkap ikam atau berburu.
Masa berikutnya adalah masa Neolitikum ini sudah menggunakan alat-alat yang halus dan sudah digosok, seperti beliung, belincung ,pahat . Alat ini banyak diketemukan di wilayah Indonesia Timur ternasuk Lampung dan Jawa Barat
Kapak-kapak batu masa Neolitikum ini juga ada yang diketemukan di desa Adiwarno Kecamatan Batanghari Lampung Timur dan desa Margajaya Kecamatan Kibang Lampung Selatan (dekat Kota Metro)


Sumber: Rumah Informasi Situs Pugungraharjo di Desa Pugungraharjo Kec. Sekampung Udik Kab. Lampung Timur, Lampung, Indonesia. Kodepose 34183



Read More ->>

Senin, 25 November 2013

PROTISTA YANG MENGUNTUNGKAN DAN MERUGIKAN

Protista yang menguntungkan

  1. Zooplankton di ekosistem perairan sebagian besar adalah protista berklorofil yang berguna sebagai makanan ikan dan arthropoda air.
  2.   Entamoeba coli di dalam usus besar mamalia ikut berperan dalam proses pembusukan sisa makanan.
  3. Foraminifera mempunyai kerangka luar dari zat kapur dan fosilnya dalam jumlah tertentu dapat membentuk endapan tanah globigerina yang dapat digunakan sebagai petunjuk adanya minyak bumi.
  4.  Radiolaria mempunyai kerangka dari zat kersik. Radiolaria yang mati akan meninggalkan cangkangnya dan membentuk tanah radiolaria yang dapat digunakan sebagai bahan penggosok.
  5. Paramaecium dapat juga digunakan sebagai organisme indikator terjadinya pencemaran air oleh zat organik.
  6. Chlorella selain berperan sebagai produsen di ekosistem perairan, juga dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan protein sel tunggal (PST).


Selain protista menguntungkan :
  1. Entamoeba histolytica hidup di dalam liang usus manusia, menyebabkan kerusakan jaringan pada usus dan diare.
  2. Entamoeba hartmani hidup di dalam liang usus manusia, penyebab disentri tetapi efeknya tidak lebih parah dari Entamoeba histolytica.
  3. Entamoeba gingivalis hidup di dalam rongga mulut manusia, ada disela-sela gigi atau di leher gigi, tenggorokan, dan tonsil. Tidak bersifat patotenik akan tetapi dapat memperparah terjadinya radang gusi.
  4. Trypanosoma gambiense menyebabkan penyakit tidur pada manusia (sleeping sickness atau trypanosomiasis). Protista ini hidup di dalam darah manusia. Vektor perantaranya adalah lalat tse-tse dari jenis Glossina tachionides.
  5. Trypanosoma evansi menyebabkan penyakit surrah pada ternak sapi, kuda, dan kerbau. Banyak berjangkit di daerah tropis termasuk Indonesia. Vektor perantaranya adalah lalat dari genus Tabanus.
  6. Trypanosoma rhodesiense, sama halnya dengan Trypanosoma gambiense,menyebabkan penyakit tidur pada manusia. Yang membedakan adalah vektor perantaranya yaitu lalat tse-tse dari jenis Glossina morsitans dan Glossina palpalis.
  7. Leishmaania donovani menyebabkan penyakit kala azar pada manusia. Penderita biasanya demam berkepanjangan, hati, dan limfanya membesar, serta terjadinya ulcers atau luka pada ususnya.
  8. Chlorella (contoh alga hijau), digunakan untuk suplemen makanan, obat-obatan, dan bahan kosmetik.
  9.  Porphyra (alga merah), digunakan sebagai suplemen makanan.
  10.  Rhodymenia palmata (alga merah), digunakan sebagai sumber makanan.
  11.  Macrocrystas pyrifera, menghasilkan iodin yaitu unsur yang dapat mencegah penyakit gondok.
  12.  Macrocystis (alga cokelat), digunakan sebagai makanan suplemen untuk ternak karena kaya Na, P, N, Ca.
  13.  Gellidium; Gracilaria, digunakan sebagai bahan pembuatan agar-agar.
  14.  Laminaria; Fucus; Ascophylum, menghasilkan asam alginat sebagai pengental dalam produk makanan (sirup, coklat, permen, sald, keju, es krim) dan pengental dalam industri(lem, tekstil, pelapis kertas, tablet anti-biotik, pasta gigi).
  15.  Diatom (alga pirang), karena mengandung silikat tanah diatom digunakan sebagai penggosok, isolasi bahan dasar industri kaca, dan penyaring bakteri.
Read More ->>

WALI SONGO BERSERERTA GAMBAR (LENGKAP)

Peranan Wali Songo dalam Peradaban Islam di Indonesia.
Ada sembilan ulama yang sangat berjasa dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Mereka dikenal dengan sebutan “Wali Songo”
Wali Songo mengambangkan agama Islam menjelang dan setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, atau sekitar abad ke-14 sampai abad ke-16. Dalam Babad Tanah Jawi dikatakan bahwa dalam berdakwah, para Wali ini dianggap sebagai kepala kelompok mubaligh untuk daerah penyiaran tertentu.
Selain dikenal sebagai ulama, mereka juga berpengaruh besar dalam kehidupan politik pemerintahan. Karena itu, mereka diberi gelar “Sunan” (Susuhunan; junjungan) gelar yang biasa digunakan untuk para raja di Jawa.
1. Wali Songo dan Dakwah Islam
Dalam menyiarkan Islam, Wali Songo tidak hanya akrab dengan masyarakat umum, tetapi juga dengan penguasa kerajaan. Ketika menyiarkan Islam, mereka menggunakan berbagai bentuk kesenian tradisional masyarakat setempat. Mereka menyisipkan nilai-nilai Islam ke dalam kesenian tersebut. Karena itu, upaya mereka terasa tidak asing dan sangat komunikatif bagi masyarakat setempat. Usaha ini membuahkan hasil, tidak hanya mengembangkan agama Islam, tetapi juga memperkaya kandungan budaya Islam.
Syiekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik
Beliau juga dikenal dengan sebutan syiekh Magribi, karena ia diduga berasal dari wilayah Magribi (afrika Utara). Namun, hingga saat ini tidak diketahui secara pasti sejarah tentang tempat dan tahun kelahirannya. Ia diperkirakan lahir sekitar pertengahan abad ke-14. Ia berasal dari keluarga muslim yang taat, dan belajar agama sejak kecil. Meskipun demikian, tidak diketahui siapa gurunya hingga ia kemudian mejadi seorang ulama.
Sunan Gresik merupakan pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Ia berdakwah secara intensif dan bijaksana. Sunan Gresik bukanlah orang Jawa, tetapi ia mampu beradaftasi dengan masyarakat setempat. Upayanya untuk menghilangkan sisitem kasta pada masyarakat pada masa itu merupakan dakwahnya. Namun sumber lain mengatakan bahwa jauh sebelum Sunan Gresik datang ke Pulau Jawa, sudah ada masyarakat Islam di daerah Jepara dan Leran.
Cita-cita dan perjuangannya menyebarkan Islam di Jawa dilanjutkan oleh anaknya, Sunan Ampel.

Sunan Ampel



Ia memulai dakwahnya dari sebuah pesantren yang didirikan di Ampal Denta (dekat Surabaya). Oleh karena itu, ia dikenal sebagai pemimbina pondok pesantren pertama di jawa Timur.
Suna Ampel merupakan putera dari Sunan Gresik yang meneruskan perjuangan Sunan Gresik menyiarkan Islam di tanah Jawa. Ia dikenal dengan Wali yang tidak setuju terhadap adat-istiadat masyarakat Jawa pada masa itu. Misalnya, kebiasaan mengadakan sesaji dan selamatan. Namun para wali lain berpendapat bahwa hal itu tidak dapat dihilangkan dengan segera. Mereka mengusulkan agar adat-istiadat semacam itu lebih baik diberi warna islami. Akhirnya, Sunan Ampel setuju walaupun ia tetap khawatir kalau hal itu akan berkembang menjadi Bid’ah.
Ajaran Sunan Ampel yang terkenal adalah “Falsafah Moh Limo” atau “tidak Mau Melakukan Lima Hal”.
1. Moh Main atau Tidak mau berjudi.
2. Moh Ngombe atau Tidak minum-minuman keras (mabuk-mabukan)
3. Moh Maling atau Tidak mencuri.
4. Moh Madat atau tidak mau menghisap candu, ganja, dan lain-lain.
5. Moh Madon atau Tidak berzina.

Sunan Giri

 
Nama aslinya adalah Raden Paku. Ia merupakan putra dari Maulan Ishak. Ia sempat diadopsi oleh Nyai Ageng Pinatih ketika masih bayi dan sempat diberi nama joko Samudro; karena Raden Paku ditemukan di tengah Selat Bali.
Sunan Giri sempat mondok di Pesantren Ampel Denta milik Sunan Ampel sebelum memperdalam ilmu di Pasai, tempat Maulana Ishak menyiarkan Islam.
Sekembalinya ke tanah Jawa, Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah Giri. Ia juga banyak mengirim juru dakwah ke Bawean, bahkan juga ke Lombok, Ternate dan Tidore di Maluku.

Sunan Bonang

Cara penyebarannya ialah menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang menggemari Wayang dan Musik Gamelan. Untuk itu, menciptakan gendang-gending yang memiliki corak keislaman.
Sunan Bonang yang bernama asli Syiekh Maulana Makdum Ibrahim ini pernah belajar agama di Pesantren Ampel Denta dan di Pasai bersam Sunan Giri. Sekembalinya dari Pasai, ia memutuskan untuk memusatkan kegiatan dakwahnya di Tuban dengan mendirikan Pesantren. Ia wafat di Tuban pada tahun 1525.

Sunan Kalijaga


Ia dikenal sebagai budayawan dan seniman. Nama aslinya adalah Raden Said putra Adipati Tuban yaitu Temenggung Wilatikto. Ia menciptakan anaka cerita wayang yang bernafaskan islami. Ia juga menciptakan wayang kulit dan wayang beber. Dan ia juga pencipta dari lagu daerah Jawa yang berjudul Lir-Ilir.
Sebelum mempelajari agama islam lebih dalam, ia adalah seorang perampok. Namun yang ia rampok bukanlah rakyat jelata, melainkan para penarik pajak yang meminta pajak dengan kekerasan dan sangat mencekik kehidupan masyarakat setempat. Ia pun sempat diusir dari Tuban, dan pergi ke hutan Jatiwangi. Di sana ia dikenal dengan sebutan Brandal Lokajaya.
Ia mendapat gelar sunan Kalijaga karena ia sempat disuruh menjaga sungai (bertapa) selama tiga tahun. Ia adalah murid dari Sunan Bonang. Ia juga menciptakan berbagai macam alat musik seperti Gamelan dan Bedug untuk media dakwahnya.

Sunan Kudus


Ia adalah putra dari Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung dari Jipang Panolan. Untuk melancarkan penyebaran islam, Sunan Kudus membangun sebuah masjid di daerah Loran pada tahun 1549 M. Masjid itu diberi nama Masjid Al-Aqsa atau Al-Manar. Wilayah di sekitarnya disebut Kudus, merupakan nama yang diambil dari dari nama Kota al-Quds (Yarusalem) di Palestina, yang pernah ia kunjungi. Masjid itu kemudian dikenal dengan nama Masjid Menara Kudus karena di sampingnya terdapat menara tempat duduk masjid.
Sunan Kudus atau Ja’far sadiq digelari wali al-‘ilmi (orang berilmu luas) oleh para wali songo karena memiliki keahlian khusus dalam bidang agama. Karena keahlian nya itu, ia banyak didatangi para penuntut ilmu dari berbagai wilayah. Ia juga dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan di daerah Kudus. Karenanya, ia menjadi pemimpin agama sekaligus menjadi pemimpin daerah.
Ia berdakwah menggunakan strategi pendekatan pada masyarakat setempat. Ia membiarkan duklu adat-istiadat dan kepercayaan masyarakat setempat yang sulit dirubah, namun bagian adat yang tidak sesuai islam tetapi mudah dirubah maka segea dihilangkan. Ia menghindari konfrontasi secara langsung dalam menyiarkan islam. Strategi dakwah ini juga diterapkan oleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.

Sunan Drajad



Nama aslinya adalah Raden Qosim. Ia merupakan putra dari Sunan Ampel dan Dewi Condrowati. Dalam catatan sejarah Wali Songo, Raden Qosim disebut dengan seorang wali yang hidupnya paling bersahaja, walaupun dalam urusan dunia ia juga sangat rajin mencari rezki.
Adapun ajaran Sunan Drajad yang terkenal adalah
Menehono teken marang wong kang wuto.
Menehono mangan marang wong kang luwe.
Menehono busono marang kang mudo.
Menehono ngiyup marang wong kang kudanan.
Terjemahannya sebagai berikut:
Berikanlah tongkat pada orang buta.
Berikanlah makanan pada orang yang lapar.
Berikanlah pakaian pada orang yang telanjang.
Berikanlah tempat berteduh pada orang yang kehujanan.
Ia berdakwah di daerah Drajad dan meninggal di daerah itu juga. Makamnya berada di desa Drajad, kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.

Sunan Muria


Nama aslinya adalah Raden Umar Syaid. Ia adalah putera sunan Kalijaga dan Dewi Saroh. Ia dikenal sebagai seorang anggota Wali Songo yang mempertahankan kesenian Gamelan sebagai media dakwah yang ampuh untuk merangkul masyarakat Jawa.
Selain dengan kesenian, ia juga berdakwah dengan cara memadukan adat setempat dengan warna islami. Adapun adat setempat yang dipadukan dengan warna islami adalah sebagai berikut:
Selamatan ngesur tanah (kenduren setelah ngubur nayat)
Nelung dinani (kenduren setelah 3 hari mengubur mayat)
Mitung dinani (kenduren setelah 7 hari ngubur mayat)
Matang puluh, nyatus dino, Mendhak pisan, mendhak pindo, dan nyewu.


 Sunan Gunung Jati


Nama aslinya adalah Syarif Hidayatullah. Pada usia 20 tahun dia berguru pada Syiekh di daratan Timur Tengah. Aetelah selesai menuntut ilmu, pada tahun 1470 dia berangkat ke tanah Jawa untuk mengamalkan ilmunya. Istrinya yang pertama adalah Nyai Babadan, wanita itu dinikahi pada tahun 1471. Dia adalah putri dari Ki Gedeng Babadan.
Perkawinannya dengan Nyai Babadan ini tidak dikaruniai seorang anak pun, lalu pada tahun 1475, ia kawin lagi dengan Nyai Kawungten, adik dari Bupati Banten.
Ia sempat menikah dengan Syarifah Baghdad, yang merupakan adik dari Syiekh Abdurrahman. Namun dari sekian banyak istrinya, Sunan Gunung Jati pernah menikah dengan putri cantik dari daratan Cina, Ong Tien.
Sekitar tahun 1479, ia pergi ke Cina. Di sana ia membuka pengobatan sambil berdakwah. Ia mendapat gelar Maulana Insanul Kamil.
2. Model Penyebaran Islam Wali Songo
Secara umum Wali Songo menyiarkan Islam dengan memadukan budaya setempat sebagai media dakwah. Mereka membiarkan budaya dan kepercayaan masyarakat setempat yang sulit dirubah. Namun bagian adat yang mudah dirubah, maka dengan segera mereka menghilangkannya. Mereka melakukannya karena menghindari konfrontasi dengan masyarakat secara langsung. Dan tentunya mereka melakukan hal itu agar mudah berkomunikasi dengan masyarakat, dengan cara itu masyarakat bisa dengan mudah menerima mereka dan mengamalkan apa yang diajarkan.
Anggota Wali Songo yang memakai cara  pendekatan itu adalah Sunan Kali Jaga, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. Sunan Kali Jaga malah membiarkan masyarakat membakar kemenyan, dan ia juga sempat menciptakan alat musik berupa Gamelan.
Memang pada dasarnya hal ini termasuk Bid’ah, namun jika tidak dengan cara ini masyarakat sangat sulit untuk didekati.

3. Kemjuan Islam Periode wali Songo
Selama menyiarkan agama Islam, Wali Songo banyak mengalami hambatan. Ada fitnah, dan budaya setempat yang sulit dirubah. Namun dengan kesabaran dan tekat yang kuat, akhirnya sebagian masyarakat Jawa masuk Islam meskipun tidak sedikit yang melakukan bid’ah. Hal itu bagi Wali Songo bukanlah masalah besar. Dan mereka meyakini suatu saat nanti akan ada orang yang dapat menghilangkan budaya masyarakat setempat yang tertmasuk bid’ah.
Permasalahan yang cukup terkenal sampai saat ini mengenai wali Songo adalah perkara Syiekh siti Jenar. Ia adalah seorang ahli agama dari Persia. Ia mengaku dirinya adalah Allah. Para wali sangat menentangnya, dan memutuskan hukuman mati bagi syiekh siti Jenar. Meskipun Syiekh Siti Jenar mati, namun ajarannya tetap menyebar. Bahkan ia sempat mempunyai banyak murid. Sebelum Syiekh Siti Jenar dihukum mati, ia sempat mengeluarkan ancaman kepada para Wali. Dan ancaman itu pun benar terjadi, di Mataram 6000 ulama Sunni dibantai oleh Sunan Amangkurat I.
Pertentangan antara faham Manunggaling Kawula Gusti memang terus berlangsung. Para pendukung siti Jenar tetap berusaha mendiskreditkan para Wali, bahkan hingga zaman modern ini.Namun di balik itu semua, usaha Wali Songo dalam menyiarkan agama Islam membuahkan hasil yang luar biasa, hingga dapat kita rasakan sampai saat ini.
Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia memengaruhi kebudayaan Islam bangsa Indonesia. Akulturasi dengan budaya sebelumnya membuat budaya islam makin diminati masyarakat. Dan salah satu dampak yang muncul adalah berdirinya kerajaan-kerajaan yang bercorak islam, antara lain Kerajaan Samudera Pasai, Aceh, Demak, Pajang, Mataram Islam, Cirebon, Banten, Makasar, Ternate, dan Tidore.


Read More ->>
M.Art.X|Design. Diberdayakan oleh Blogger.